Hal itu diungkapkan Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir, dalam sambutannya saat acara kenduri aksi Restorasi Gambut Nasional yang dipusatkan di Sungai Tohor, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Selasa kemarin.
Bupati menjelaskan, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki luas wilayah 3.707,84 kilometer persegi, dimana sebagian besar adalah lahan gambut tempat masyarakat menggantungkan ekonominya disektor pertanian dan perkebunan, seperti Karet, Sagu, Kelapa, Kopi serta Perikanan Tradisional.
"Dari total luas wilayah tersebut sebanyak 318 ribu hektar merupakan lahan gambut yang rawan terhadap kebakaran dan abrasi dengan kedalaman
gambut berfariasi mulai 4 sampai 12 meter," ungkapnya.
Hingga saat ini, kata bupati, tercatat total abrasi akibat air pasang dibibir pantai mencapai sepanjang 86 kilometer, abrasi menjadi ancaman serius yang merusak berbagai infrastruktur publik seperti pelabuhan, jalan, serta rumah penduduk.
"Selain itu lahan gambut yang mudah kering sangat mudah terbakar dan jika terbakar sangat sulit dipadamkan. Di tahun 2016 saja jumlah kebun karet dan sagu masyarakat yang sudah terbakar mencapai 82 hektar," ujarnya.
Salah satu upaya untuk mengantisipasi kebakaran dilahan gambut, terangnya, seperti yang dibuat di Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebingtinggi Timur dengan cara membangun sekat kanal.
"Jumlah sekat kanal yang telah dibangun sebanyak 23 kanal yang siap ditutup saat terjadi musim kemarau, sehingga tanah gambut tetap lembab dan jika terjadi kebakaran sumber air tersedia," kata Bupati Irwan. (mr)
0 Response to "Kondisi Darat di Kepulauan Meranti Kian Memprihatinkan Akibat Abrasi"
Posting Komentar