
Gemariau.com - Peringkat ketahanan pangan Indonesia di era Presiden Jokowi tercatat meningkat. Data Global Food Security Index (GFSI) menunjukkan, ketahanan pangan Indonesia kini (2016) berada di peringkat ke-71 dari 113 negara.
Data GFSI sendiri telah dirilis The Economist Intelligence Unit, dan pada 2014 dan 2015 angka ini merosot ke posisi 76 dari 113 negara.
Namun, perbaikan mulai nampak di tahun 2016. Data GSFI terbaru menunjukkan ketahanan pangan Indonesia kini berada di peringkat ke-71 dari 113 negara yang diobservasi. Indonesia memang masih berada di kategori rendah, namun meningkat secara signifikan dibandingkan posisi tahun 2015.
Ketahanan pangan Indonesia secara umum diberi nilai 50,6, naik dari tahun sebelumnya yang 47,9. Peningkatan nilai ini disebut terjadi karna tiga aspek, yakni karena keterjangkauan, ketersediaan, serta kualitas dan keamanan.
Pada poin keterjangkauan, Indonesia di tahun 2016 mendapat nilai 50,3, naik dari sebelumnya 46,8. Ketersediaan juga meningkat menjadi 54,1 dari sebelumnya 51,2. Sementara kualitas dan keamanan naik tipis ke 42 dari sebelumnya 41,9.
Poin keterjangkauan mengalami kenaikan paling signifikan dibanding dua poin lainnya. Hal ini didorong beberapa program pemerintah, salah satunya adalah Toko Tani indonesia (TTI) yang mulai diluncurkan pada Agustus 2015 lalu.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, hingga saat ini telah beroperasi sebanyak 733 TTI Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) yang tersebar di 33 provinsi. Selain itu, ada juga kurang lebih 80 TTI khusus yang dibangun oleh pemerintah, antara lain seperti TTI Sentra Pasar Minggu yang diresmikan pada 15 Juni kemarin.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, persoalan pangan sudah ada sejak 70 tahun lalu dan TTI merupakan solusi jangka pendek untuk menekan harga pangan. TTI menjual daging segar dan beku, kemudian bawang putih dan merah, ayam, gula pasir, dan minyak goreng dengan harga di bawah harga pasar.(Al)

0 Response to "Peringkat ketahanan pangan Indonesia naik di era Presiden Jokowi"
Posting Komentar