
Gemariau.com - Kerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai mengakibatkan porak porandanya sekitar enam vihara (kelenteng) yang dibakar oleh ratusan warga.
Pembakaran-pembakaran itu mulai meletus Jumat (29/7) menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.00.
"Ada enam vihara dan kelenteng yang diserang beberapa ratus warga. Namun kebanyakan, pembakarannya dilakukan pada alat-alat persembahyangan, dan bangunannya sendiri tidak terbakar habis," kata juru bicara Kepolisian daerah Sumatera Utara, Kombes Rina Sari Ginting.
Saat ditanya penyebab terjadinya kerusuhan tersebut, sehingga massa bisa leluasa mengamuk, Rina Ginting menjawab, "Saat itu kami masih sedang mendalami dan tidak membiarkannya." jelasnya.
"Saat itu sebetulnya sedang berlangsung dialog, namun massa di luar bergerak sendiri. Mereka bergerak cepat, kami berusaha meminta mereka untuk membubarkan diri dan tidak melakukan kekerasan. Dan jumlah polisi sangat terbatas saat itu." ucapnya
"Kami terus mendalami, dan menyelidiki siapa pelaku-pelakunya, siapa dalangnya. Mereka pasti ditindak, karena ini merupakan perbuatan pidana," tegasnya.
Adapun tujuh orang yang sudah 'diamankan' dan masih diinterogasi, terkait dugaan penjarahan saat kejadian, bukan pada tindakan perusakan dan pembakarannya.
Hal ini terjadi berawal dari volume pengeras suara mesjid yang dipermasalahkan oleh warga tionghoa. Disebutkannya, ketegangan bermula menjelang shalat Isya, setelah Meliana, seorang perempuan berusia 41 tahun yang meminta agar pengurus mesjid Al Maksum di lingkungannya mengecilkan volume pengeras suaranya.
Dan sesudah shalat Isya, sekitar pukul 20.00 sejumlah jemaah dan pengurus mesjid mendatangi rumah Meliana. Lalu atas prakarsa Kepala Lingkungan, Meliana dan suaminya dibawa ke kantor lurah.
Namun tiba-tiba suasana memanas, Meliana dan suaminya kemudian 'diamankan' ke Polsek Tanjung Balai Selatan.
"Di kantor Polsek lalu dilakukan pembicaraan yang melibatkan Camat, Kepala Lingkungan, tokoh masyarakat, Ketua MUI, dan Ketua FPI setempat," kata Rina Ginting.
"Tapi di luar, massa mulai banyak berkumpul, dengan banyak mahasiswa, mereka melakukan pula orasi-orasi. Tapi kami bisa menghimbah mereka dan mereka pun membubarkan diri.'
Namun dua jam kemudian massa berkumpul lagi, kemungkinan akibat pesan di media sosial.
Mereka lalu mendatangi rumah Meliana dan bermaksud membakarnya namun dicegah oleh warga sekitar. Sesudah itu, massa yang semakin banyak dan semakin panas bergerak menuju Vihara Juanda yg berjarak sekitar 500 meter dan berupaya utk membakarnya tapi dihadang oleh para petugas Polres Tanjung Balau. massa yang marah lalu melempar vihara itu dengan batu.
"Lalu massa bergerak ke tempat lain, yang ternyata melakukan pembakaran di beberapa vihara dan kelenteng, yang jaraknya berdekatan" papar Rina Ginting pula. dikutip dari BBC.
Dari hasil pemantauan tercatat enam vihara yang dilakukan pembakaran dan perusakan oleh warga dan sejumlah kelenteng dan beberapa bangunan lain, serta beberapa kendaraan.(Posmtro/grc)


0 Response to "Ini Kronologi Amuk massa di Tanjung Balai Hingga Warga Bakar Vihara"
Posting Komentar